MALANG, SECOND TRIP TO EAST JAVA - Day 1

PULAU SEMPU....
 
Entah kenapa propinsi Jawa Timur sekarang terlihat sangat menarik di mataku. Trip pertama ke Bromo sangat berkesan meskipun kabut, hujan, basah dan dingin mampus. Hujan di bulan Juli pada musim kemarau itu sesuatu banget. Hanya di Bromo saja. Setelah turun di kota Probolinggo panas terik. Seperti sedang menguji liburan kita saja.


stasiun Malang


East Java calling again. Dengan adanya tanggal merah satu hari pada hari Senin dan bolos kerja pada hari Sabtu, berangkatlah kita menuju kota Malang. Setahun lalu sekolah mengadakan Kunjungan Industri (KI) di Solo dan Malang. Untuk tempat industri di Solo, dan berwisata di Batu Malang. Dari Solo ke Malang hahaha... Nggak nyambung ya. Dan meskipun aku pengen banget ke Malang, tahun lalu aku nggak ikut KI. Karena jagain anak-anak itu pasti merepotkan. Udah gitu ke Batu cuma ke Jatim Park 1 yang isinya cuma wahana-wahana permainan. Wew nggak menarik blas. Masih mending ke wisata petik apel. Ada bau-bau alamnya. Waktu itu aku malah main ke Ullen Sentalu sama Nias.


Pulau Sempu di depan mata, mau nyoba renang kesana?
Liburanku ke Malang jelas jauh lebih menarik dibanding KI dulu. Mulai berteman dengan kereta api Indonesia, berangkat ke Malang jam 10.15 malam dari stasiun Tugu. Kok dari Tugu nggak dari Lempuyangan? Kita dapat tiketnya mahal meskipun kelas ekonomi. Wew mbok Sri Tanjung lewat Malang lah. Murah meriah. Memang lebih menyenangkan berangkat malam. Masuk kereta langsung tidur. Bangun pagi-pagi udah sampai di tempat tujuan deh. Kali ini kita bareng rombongan mau ke Bromo. Menyenangkan tiap dapat teman perjalanan yang mau jalan-jalan juga. Dulu pas kita mau ke Bromo dapet teman mau ke Rinjani. Sekarang mau ke Malang dapat teman mau ke Bromo.

lapor dulu di resort konservasi ini
Sampai di stasiun Malang sekitar jam 5 pagi. Alhamdulilah, i'm here. Excited banget. Jadi inget film 5 cm pas mereka sampai di stasiun Malang. Yay aku juga sampai sini lho. Cuma beda tujuan aja. Tapi semangat tetap sama. Semangat jalan-jalan. Wuhu...


pantai Sendang Biru

Setelah sholat subuh kita nunggumotor sewaan datang. Kita memang sewa motor buat jalan-jalan di Malang. Karena rencana kita mau ke banyak tempat wisata yang jaraknya berjauhan. Ternyata rombongan yang mau ke Bromo pun sewa motor untuk kesana. Asyik ya, kenapa dulu nggak kepikiran buat sewa motor aja dari Malang ke Bromo. Kan asyik tuh lewat Tumpang, pemandangannya indah banget lho (katanya)



Ehem, masnya rental motor mana ya nggak muncul". Nunggu lama nggak kerasa lama karena masih excited ngeliatin pemandangan depan stasiun. Kurang lebih jam 7 pagi masnya nongol. Masih muda jadi ngerti banget dunia jalan-jalan sekitar Malang. Masnya ini sama keluarganya punya usaha penginapan juga. Tapi entah di daerah Malang sebelah mana. Sama masnya dikasih petunjuk jalan mau kemana-mau kemana. Oke deh masnya, kita siap meluncur


i feel free
Setelah baca Selamat! Anda Telah "Merusak" Pulau Sempu, dilema juga sih mau ke Pulau Sempu. Tapi tapi tapi, dari dulu kan pengen banget ke sini. Dari jaman belum ngetrend traveling, backpacker, etc etc, udah ngiler banget kesini. Maafkan aku ya Segara Anakan, Pulau Sempu, akhirnya aku menjamahmu juga. Tapi aku nggak merusak kok, sumpah. Buat kalian-kalian yang tidak bisa menjaga dan mencintai alam, jangan berani-berani ke sana deh. Kenapa? Ya karena alasan-alasan yang ditulis di blog atas tadi. Dan aku yang udah pernah kesana, sekali saja cukup!


sampai di Karangsemut
Dari Malang, dari Stasiun Kotalama, makan waktu kurang lebih 2 jam. Jauh ye, jalannya naik turun belak-belok lagi. Mirip sama Jogja ke Gunungkidul deh, 2 jam an gitu. Lewat Turen, celingukan nyari plang masjid Tiban kok nggak nemu ya. Luas banget sih Turen itu. Berasa nggak habis-habis. Lurus, belok, Turen. Lurus, belok, masih Turen lagi. Hadew... kapan nyampenya ini.

ranger, eh pemandu jalan

Masuk TPR Sendang Biru, langsung kelihatan itu Pulau Sempu di pelupuk mata. Ya Allah deket banget ternyata, kayak lompat aja nyampe. Kirain ya kelihatan dari Sendang Biru tapi agak jauh gitu. Eh langsung di pelupuk mata. Pantai Sendang Birunya dipenuhi kapal-kapal nelayan, banyak banget. Jadi kurang ciamik gitu kalau buat nongkrong.

robot tree
Sebelum menjamah Pulau Sempu, lapor dulu di pos resort. Bayar dulu dong sebagai warga yang baik. Bayarnya 20ribu kalau nggak salah. Bayar pemandu 100ribu. Makin banyak orang makin murah karena biaya bisa dibagi banyak orang. Mau gratis? Ya nggak pake pemandu, kalau yakin nggak bakal nyasar. Eh kayaknya nggak boleh kalau nggak pakai pemandu. Kecuali kalau nggak lapor sih. Doh, jangan dilakukan ya. Wajib lapor!

jalan jahat
Karena kita nggak pake nginep, tas boleh ditinggal di pos. Hore nggak bawa beban deh. Ngebayangin track yang susah, masih bawa beban itu bikin galau. Jadinya cuma bawa beban air minum sama cemilan doang deh. Terus ketemu sama pemandunya. Duh pemandunya ahli hisap banget deh. Kebal-kebul, merokok terus...




Bayar kapal 100ribu lagi. Jarak yang terlihat dekat, ternyata ya agak lama juga nyebrangnya. Kurang lebih 10 menit baru sampe di Karang Semut. Pohon-pohon bakaunya bagus yah. Di Karang Semut ketemu sama serombongan yang nggak bawa pemandu. Wew, yakin mas nggak nyasar? :)



Perjalanan dari Karang Semut ke Segara Anakan kurang lebih 1 jam. Hutannya awesome, masih alami. Rimbun banget. Adem deh. Kalau kita diam, sepi bener. Cuma ada suara serangga doang. Kadang-kadang suara monyet teriak-teriak, entah dimana monyetnya. Disini....



Jalan menuju surga itu memang tidak mudah. Awal-awal trek biasa, cenderung gampang karena tidak mendaki. Tanah pun masih keras. Banyak akar dan dahan pohon yang menjuntai di bawah dan bikin terpeleset, bikin tambah seru perjalanan. Jatuh cinta deh sama hutannya. Hutannya itu seperti hutan dalam bayangan. Lebih hutan dari Kali Kuning deh. Ihhhh..suka kali sama hutannya. 



Pada awalnya seperti bisa melesat melewati hutan dalam sekejap mata. Makin lama tanahnya makin kacau. Tanahnya mulai basah dan lembek. Dan treknya menjadi ada yang menanjak. Napas pun makin lama makin ngos-ngosan. Duh nggak pernah olahraga ya kayak gini ini jadinya. Jadi merindukan kondisi prima jaman-jaman kegiatan lapangan terutama diksi. Ini kan nggak ada apa-apanya ya sebenarnya.




Katanya jalan sekitar sejam sampai gitu. Ini rasanya kok nggak sampe-sampe. Udah badan masih capek habis dari perjalanan, perut kosong belum makan, haduh tulonggg... Di tengah jalan kita ketemu rombangan yang lagi istirahat. Kata pemandu mereka berangkat udah dari pagi, jauh sebelum kita. Kok belum sampai juga? malah kita balap. Usus punya usut mereka lewat jalur pada umumnya mau ke Segara Anakan. Kalau jalur kita ini jalur nggak umum biar cepet sampai. Ya pantes aja jalannya ekstrim nggak jelas gini. Oalah mas pemandu, buset dah



Setelah melewati jalan yang sepertinya klimak sangarnya, di kanan jalan ada air gitu. Wihiii sampai broh. Udah bahagia gitu. Eh ternyata masih jalan lagi lumayan lama ngitarin pinggir air. Sampai di jalan setapak yang jelas-jelas menampakkan kekejiannya, air berubah hijau cantik. Ya Allah pengen langsung nyebur. Tapi ini mana sih pantainya nggak sampai-sampai. Karena mas pemandu kita ini pun tingkat ekstrimnya sangat tinggi, dia nggak sabar nungguin rombongan yang jalan bak siput di depan. Gimana nggak kayak siput jalannya? Jalannya itu becek cek, jalan bener aja kepleset apalagi jalan ngaco. Mas pemandu pun mencarikan kita jalan yang lain. Jalannya kering sih, lewat atasnya jalan becek. Keringnya jalan diganjar dengan tingkat kemiringan yang bikin napas ngos-ngosan dan harus membuka jalan dari rimbunnya pohon-pohon kecil. Ya Allah entah berkah atau musibah dapat pemandu yang ini. Kita jalannya jadi di atas kepala rombongan depan. Hasilnya jelas kita membalap rombangan yang tadi di depan kita jauh lebih cepat dari mereka hahaha...


And finally, sampai di Segara Anakan. Ya Allah, dream come true. Rasanya seperti mimpi bisa sampai disini. Ketika punya mimpi kesini kelas 3 SMA dulu sepertinya kan tidak mungkin aku bisa sampai di sini. Membuat mimpi menjadi kenyataan memang butuh perjuangan. Ke Segara Anakan ini malah perjuangan dari Karangsemut ke pantai ini yang sangat berkesan. Perjuangan menembus hutan dan jalan ekstrim.

Segara Anakan memang indah. Indah sekali. Airnya yang hijau, pasir putih, ditambah pepohonan yang mengelilingi pantai ini, subhanallah indah banget. Mata nggak bosan-bosan memandang airnya yang hijau. Nggak berlebihan emang kalau disebut hidden paradise.

please jangan buang sampah sembarangan
Hidden paradise sih sekarang jadi unhidden paradise lagi. Ya karena kecantikannya ini orang jadi berbondong-bondong kesini. Di tempat parkir Sendang Biru, motor sama mobil banyak banget. Dalam perjalanan balik ke Sendang Biru berpapasan sama rombongan yang banyak ibu-ibu keluarga kaya gitu. Mereka bukan tipe orang yang mau masuk hutan jaman mudanya. Tipe yang main ke mall, ke tempat yang aksesnya mudah. Ini dengan rela hati capek-capek nembus hutan pulau Sembu yang jalannya becek berlumpur ekstrim nggak jelas. Woww pesona pulau Sempu sungguh dahsyat. Jadi miris. Aku yang berekspektasi sangat tinggi dan cinta alam, hutan di pulau Sempu bagiku indah banget dan semacam harus dihormati gitu. Mereka dengan santainya jalan ngobrol bercanda nggak karuan nggak menghayati hutan banget. Huhhh


Sampai di Segara Anakan udah ada beberapa rombongan yang mendirikan tenda dari semalam. Makin siang makin sore semakin banyak saja yang datang. Dan semakin rasa muak muncul. Hidden paradise itu dipenuhi sampah-sampah bekas botol minuman dan makanan ringan nggak penting. Rasanya sedih dan marah kepada orang-orang nggak bertanggungjawab membuang sampah sembarangan. Pengen nimpuk muka mereka pake botol minum bekas yang mereka buang.



Pak bu pejabat yang berwenang. Please mbok ya dibikin peraturan nggak boleh camping di Pulau Sempu. Please mbok ya hanya boleh berkunjung aja tanpa menginap. 1 atau 2 tahun lagi pasti rusak itu Segara Anakan. Pasti akan dipenuhi sampah yang bikin pemandangan indahnya hilang. Please pak bu pejabat yang berwenang, tolong diperhatikan. Itu tugas kalian lho. Kalian digaji untuk itu. Please, tulong....


Karena makin lama makin ramai dan bikin emosi juga muak, sudahlah kita sudahi saja menikmati hidden paradise ini. Dan perjalanan pulang membutuhkan perjuangan yang nggak kalah berat. Berhubung pemandu memang suka membuat kita bercapek ria, jalur pulang berbeda dari jalur berangkat. Cuma berpapasan sekali sama penduduk lokal yang hendak memancing. Ketiga bapak-bapak itu sepertinya berdebat menentukan jalur menuju tempat memancing. Lah jangan-jangan mereka lupa jalan lagi haha.. 


Selain ketiga bapak itu, kita nggak ketemu siapa-siap. Suasana hutan tambah sepi. Kali ini kesannya malah serem, nggak menyenangkan kayak pas berangkat tadi. Mungkin karena langitnya agak mendung jadi suasana hutan muram gimana gitu. Mana entah akar pohon atau dahan pohon yang menjuntai ke tanah, bikin kaki kepleset dan tangan sering nyangkut. Walah ini pemandu kok apal banget ya jalannya. Kata pemandu kita nanti nggak ke Karangsemut. Ha, maksudnya? Lha kan kapalnya berhenti di Karangsemut mase. 



Dan akhir perjalanan menjelajah hutan Pulau Sempu berakhir di.... karang pinggir pantai. Ya Allah mase pemandu memang antimainstream. Padahal Karangsemut itu landai, kok ya ini dikasih di karang-karang tajam. Katanya jalur ini lebih cepet daripada dari Segara Anakan ke Karangsemut. Ya iyalah ya, jalurnya aja ekstrim gitu. Mase pemandu bilang sekarang air laut baru surut. Kapal nggak bisa merapat ke Karangsemut. Jadi kita harus jalan masuk ke laut yang airnya dangkal menuju air yang dalam biar bisa diangkut kapal. Wow adventurious sekali kan. Setelah bagian celana basah akibat masuk ke laut, kita bengong nungguin kapal datang. Sambil melamun dan memandang Karangsemut di kejauhan, memandang Pulau Sempu. 

Karangsemut di kejauhan
Alhamdulillah, satu mimpi telah tercapai. Terimakasih hidden paradise. Cukup sekali saja kesana, akan terus kukenang selamanya. Ah itu kapalnya datang. Mari kita jemput mimpi yang lain....

akhirnya datang kapalnya



0 komentar:

Blogger Template by Clairvo