Beginilah Rasanya Jalan-Jalan di Ibukota


Seumur ini, saya berkunjung ke Jakarta ibukota negara Indonesia kita tercinta ini bisa dihitung dengan jari. Meskipun punya saudara dan kakak kandung berdomisili di Jakarta, sepertinya baru 4 kali saya ke Jakarta, itu sudah termasuk acara wisata waktu masih SMP dulu. Entah kenapa kurang tertarik ke Jakarta. Mungkin image Jakarta yang panas, macet, banjir, ribet, nggak nyaman, terlanjur melekat di benak saya. Terakhir ke Jakarta tahun 2015 kemarin, waktu maen ke Bogor. Itupun hanya di dalam stasiun saja, tanpa keluar stasiun hahaha


Saya ini termasuk pecinta film-film Studio Ghibli. Cinta sekali sama animasinya, luar biasa indah. Teman saya sesama penggila film-film Ghibli tentu saja adalah Nias, siapa lagi….. Beberapa bulan yang lalu Nias ngasih tahu bahwa akan ada Ghibli Exhibition yang akan diadakan di Jakarta. Meskipun penggemar berat tapi kami tidak terlalu excited mengingat harga tiket yang mahal. Belum ditambah lagi biaya akomodasi selama di Jakarta. Saya sih tidak berniat kesana. Mendekati pembukaan ternyata si Mas juga mau ada acara di Jakarta. Eh, ikutan ke Jakarta ah sekalian ke pameran Ghibli. Terus si Mas ngasih kabar acara dia diundur ke bulan September. Ya… ah nggak papa lah, tetep ke pameran aja di tanggal segitu. Eh…. Ternyata Nias malah udah beli tiket tanpa ngasih tahu. Dan tanggalnya ternyata sama, jeng jeng… Ya ampun bisa samaan gitu, kita memang Geng Lesehan sejati hahaha…


Berangkat dari Stasiun Lempuyangan malam minggu. Udah lama enggak naik kereta, rasanya menyenangkan bisa naik kereta lagi. Naik kereta malam itu yang ekonomi aja, kegiatannya cuma selfie bentar terus tidur aja kan? Bangun-bangun udah sampai Jakarta. Sampai di stasiun Senen sekitar pukul 03.30 pagi. Begitu keluar dari gerbong kereta langsung ketemu Nias yang keluar dari gerbong sebelah. Ya iyalah, namanya juga satu kereta. Dari stasiun kita pesan goc*r buat ke Masjid Istiqlal. Dari stasiun ke Masjid Istiqlal ongkosnya Rp 8.000,-. Iya, naik mobil bertiga cuma habis delapan ribu aja. Berarti 1 orang Rp 2.666,- , wowwww.... Kenapa kok bisa murah banget begitu? Mungkin karena masih subuh sekali. Sepanjang perjalanan yang singkat, jalannya lengang-lengang aja tuh. Mana katanya Jakarta macet hahaha…


Seumur ini, saya juga baru pertama kali ini ke Masjid Istiqlal Ternyata berkunjung ke Masjid Istiqlal itu ribet ya. Banyak aturan yang harus ditaati pengunjung. Masuk masjid alas kaki harus dibawa masuk. Di luar masjid sudah banyak yang menawarkan tas kresek untuk membawa alas kaki. Karena sebelumnya sudah diingatkan kakak untuk membawa tas kresek kami tidak perlu membeli. Agak penasaran juga kalau beli harganya berapa. Masuk ke dalam sudah banyak orang yang bersliweran. Selain orang-orang, juga banyak kucing bersliweran di dalam sini. Kucingnya religious ya ada kucing hitam legam yang terlihat elegan. Wah belum sampai pameran sudah disambut oleh Jiji Jiji itu kucing dalam film Ghibli, Kiky Delivery Service. Di dekat pintu masuk ini ada tempat wudhu untuk pria. Kami menaruh alas kaki dulu ke tempat penitipan yang tidak ada penjaganya. Kemudian saya dan Nias menuju ke tempat wudhu yang jalannya berliku-liku. Sampai di tempat wudhu sudah ada banyak orang yang antri mandi. Ternyata ini adalah tempat transit untuk mandi sebelum berwisata ke Jakarta. Buat masuk ke dalam harus membayar 2 ribu ke bapak penjaga. Wah berasa lagi di tempat wisata ini, hmmmm… Di sebelah tempat wudhu ada TK. Duh, inikah yang namanya ibukota? Yap, rasa terheran-heran saya sudah dimulai. Udiknya mulai keluar ini 


Tempat sholat ada di lantai 2. Hooo ini toh Masjid Istiqlal yang sering lihat di tv-tv itu. Luas banget ya, walaupun tidak seluas yang saya bayangkan. Lantai 3 masjid pun gelap. Disini sudah banyak orang yang bersiap-siap mau sholat subuh. Karena sedang tidak sholat saya diusir oleh bapak penjaga agar tidak berada di karpet masjid. Akhirnya saya duduk di lantai, padahal ngantuk banget pengen tiduran di karpet gitu rasanya. Banyak juga yang sedang tidak sholat tetap duduk di atas karpet meskipun sudah dilarang bapaknya tadi. Ya…. Indonesia gitu. Selesai sholat saya dan Nias melihat-lihat sekeliling masjid. Si Mas tetep di dalam nungguin tas, tidak tertarik ikut karena sudah pernah ke sini sebelumnya. Halaman masjid di lantai 2 ini luas ya. Dinding-dingin masjid berwarna orange karena lampu masih menyala. Langit sudah mulai terang, tetapi Monas yang terlihat kecil masih terlihat sinar lampunya. Kalau sudah siang mungkin suasananya biasa saja tidak sesyahdu ini. Sekitar jam 6 kami beranjak dari masjid dan menuju ke Monas. Untuk keluar dari Masjid Istiqlal saja kami nyasar. Niat hati mau cari pintu keluar yang dekat, ternyata pintunya ditutup. Padahal kami sudah jalan kaki mengelilingi halaman masjid yang luas sekali ini. Capekkkkk… Kenapa harus dibikin pintu yang banyak sih kalau cuma untuk ditutup? Hhhh… Indonesia sekali. Bikin banyak, yang dibuka cuma dikit 
kurang Tami & Nias
Jalan kaki itu menyenangkan. Tapi kalau jalannya jauh, bawa tas lumayan berat, belum sarapan, itu tidak menyenangkan. Dari pintu keluar Masjid Istiqlal entah yang sebelah mana, kita jalan kaki. Di atas kita ada rel kereta, agak ngeri tiap ada KRL lewat di atas takut keretanya nggelinding ke bawah hihihi... Terus nyebrang dan sampailah kita di pintu gerbang Monas. Wah deket gini. Udah seneng gitu, eh pintu gerbangnya ditutup. Ya Allah, Indonesia sekali sih Akhirnya harus muter jauh sampai di pintu gerbang di sana itu. Jauh banget jalannya ya Tuhan. Orang-orang mah asyik lari, jalan kaki. Mereka kan olahraga, kita bawa beban huhu…

salah satu diorama 
Baru tau kalau Monas itu ternyata di seberangnya Istana Negara, duh udiknya… Istana Negara terlihat sangat sibuk, sepertinya sedang gladi bersih upacara peringatan Hari Kemerdekaan 4 hari lagi. Di sekitar istana terlihat banyak sekali tentara-tentara bergerombol. Bahkan lalu lintas sempat diberhentikan untuk baris satu peleton tentara. Ada untungnya juga saya muter jauh lewat sini, jadi bisa melihat segala kesibukan ini. Biasanya cuma lihat di televisi saja. Memang menyenangkan ya jalan-jalan kemana-mana dapat pengalaman baru. Tidak ada yang bisa mengalahkan pengalaman baru deh. Kita jadi bengong dan terheran-heran sejenak. Setelah itu jadi tahu dan paham. Dan mulai melihat segala sesuatu dengan perspektif baru. Tidak seperti orang yang tidak mau mengalami pengalaman yang baru. Merasa sudah pintar tetapi jadinya cuma sok pintar saja. Berkomentar disana-disini, di grup sana-grup sini. Bahkan menjelek-jelekkan di grup eksklusif yang ditimpali oleh teman-teman sok penting dan sok pintar nya yang lain. Kalau merasa pintar, coba teori idealmu itu dipraktekkan. Ambil tanggungjawab orang yang kamu kritik dan kamu cari-cari jeleknya. Palingan juga kamu bakal bilang “Males, mending tidur di rumah”. Nah, ya sudah tidak usah mencari-cari jeleknya kinerja orang-orang disekelilingmu *curcol di tengah postingan

antri di sisi ke 3
Anyway……. sampai juga di gerbang Monas yang dibuka. Dan sampai disana kita cuma bengong. Cuma melihat orang banyak sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Kebanyakan sih menonton marching band bapak-bapak tentara. Kalau tidak ada moment seperti ini Monas sepenuh ini tidak sih? Terus tanya ke mas yang sudah pernah kesini. Kalau di Monas kita ngapain sih? Jawabannya adalah ke museum dan naik ke puncak Monas. Jadilah kita menyeberang ke pintu masuk museum yang ternyata baru dibuka pukul 08.00. Meskipun masih tutup orang-orang sudah berkerumun mengantri di depan petugas yang berjaga. Kelihatannya sih semua dari luar Jakarta. Orang liburan seperti kita. 10 menit menunggu pintu dibuka kita habiskan dengan menonton kereta kuda yang bagus lewat membawa 2 cewek anggota paskibraka nasional.


Begitu gerbang dibuka kita turun tangga menuju ke bawah. Wah kita ada di bawah tanah. Setelah mengantri di loket kita berjalan melalui terowongan panjang. Di ujung terowongan kembali naik ke atas. Sampailah kita di kaki Monas. Kenapa loket masuk berada di seberang jalan dan membuat pengunjung harus jalan kaki menyeberang lapangan Monas ya? Di dasar Monas adalah museum yang berisi diorama-diorama di sepanjang dinding yang terlihat gelap sehingga tidak terlalu menarik. Sebagian besar pengunjung hanya melihat sekilas dan lebih tertarik dengan vending machine di tengah ruangan yang terlihat dingin menggoda di tengah udara yang panas ini. Sebagian lagi langsung naik ke lantai 2 tanpa melirik diorama di dinding. Lantai 2 Monas yang bisa dicapai dengan naik tangga adalah lift untuk naik ke puncak Monas. Sampai di lantai 2 antrian di depan lift sudah mengular panjang sampai ke 3 sisi bangunan. Jika lebih panjang lagi makan akan mengular ke 4 sisi dan antrian terakhir akan berada di depan lift dan bertemu dengan orang yang antri pertama Antrian dibagi menjadi 2 jalur. Beruntung kita berada di sebalah kanan yang entah mengapa lebih cepat majunya daripada jalur di sebelah. Sewaktu menunggu antrian terdengar suara dentuman sangat keras mirip suara petir. Ternyata suara meriam dari Istana Negara. Keras banget suaranya. Jadi membayangkan film anime In This Corner of The World yang menceritakan pengeboman kota Nagasaki. Tidak terbayang rasanya jika sedang berada di medan perang. Ini hanya 1 tembakan saja suaranya sudah menggelegar bikin kaget dan panik. Pikiran melantur kemana-mana selama kurang lebih 2 jam. Sampai di depan lift pun masih harus antri karena lift nya cuma 1 nganter penumpang naik ke puncak. Nganter penumpang turun ke cawan atau lantai 3. Baru turun di sini. Lama ya… Setelah bersempit-sempitan di dalam lift yang diisi dengan jumlah maksimal penumpang, sampai juga di puncak Monas. Disini sejuk, karena banyak angin. Pemandangan dari atas sini ya gedung-gedung bertingkat. Sebenarnya bagus andai saja langitnya biru. Tapi langit disini warnanya abu-abu putih. Kesannya suram, tidak ceria. Yah beginilah rasanya jalan-jalan ke ibukota. Antri naik sekitar 2 jam, di atas cuma sekitar 5 menit saja terus turun ah sudahlah mari kita pergi dari sini. Rencana cuma mampir saja malah menghabiskan waktu sampai jam 12 siang, hadeh…


Untuk melanjutkan perjalanan, lagi-lagi pesan mobil pakai aplikasi online yang terkenal itu. Kali ini menunggu agak lama sampai mobilnya datang. Menuju ke Hotel Ritz Carlton kita melewati gedung-gedung bertingkat yang sering kita baca  namanya di media sosial. Oh itu gedung itu, itu gedung itu. Ya… noraknya mulai lagi deh. Terus lewat simpang Semanggi yang baru saja diresmikan itu. Owww itu to, hahaha… udiknya keluar 


Sampai di Ritz Carlton kita bingung. Ini hotel apa mall sih? Karena dari pagi belum makan berat kita bertiga cari makan dulu. Duh kayaknya semua makanan disini mahal-mahal yah. Akhirnya ketemu tempat makan yang agak terjangkau kantong. Menunya banyak sekali, dipajang bukannya ditulis di daftar menu. Jadinya bingung, milih menu sambil berdiri di depan pajangan menu. Akhirnya pilihan kita jatuh ke menu….yang paling murah hahahah.. Ini yang tumis baby bean enak banget. Asem-asem seger. Sambil makan melihat pemandangan di luar gedung-gedung bertingkat yang terlihat saling berdempet. Wah pemandangan makan siang yang tidak tiap hari bisa kita lihat.


Habis makan terus ke Hall Pasific Place à lihat di pos berikutnya saja ya. Lanjut jalan-jalan di ibukota saja 


Keluar dari pameran duduk-duduk menunggu kakak yang katanya mau datang. Aneh banget nggak sih ketemu kakaknya yang jarang ketemu eh ketemuannya di mall (coba hitung jumlah kata ketemu) datang juga kakak ku tercinta. Terus kita turun ke Kem Chicks yang tidak ada di Jogja. Jadinya saya mupeng lihat sayur-sayuran import yang lucu-lucu. Tomat berukuran besar, kubis berukuran kecil. Duh gemesssssss….


Dari Kem Chicks keluar lewat mana nggak tau, muter-muter nggak jelas sampai akhirnya keluar di pinggir jalan. Sambil menunggu mobil online pesanan datang, duduk-duduk di pinggir jalan sambil memandang gerbang Gelora Bung Karno di seberang jalan. Kegiatan sore orang Jakarta apa nongkrong di pinggir jalan gini ya? Nggak sehat amat ini terpapar asap kendaraan gini. Setelah mobilnya datang kita menuju entah kemana ngikut Kakak aja. Jalanan agak padat dan supir mulai menjalankan mobilnya dengan agak ngawur, sambil menyumpahi supir mobil di sebelah. Setelah itu bapaknya berceramah Islami teori orang jalanan. Ada benarnya juga walaupun terdengar agak gila. Mana bapaknya bau asap rokok. Ditambah ini kok enggak sampai-sampai ya? Lama-lama pusing mencium bau rokok dan terlintas pikiran gimana kalau kita kita disandera sama pak supir di mobil yang pengap ini? Oke fix, saya mabok ini kayaknya 


Sampailah kita di tempat makan namanya Happy Day. Semua pesan steak kecuali Nias yang pesan nasi goreng dengan porsi super banyak. Nias makannya ngebut karena dikejar jadwal kereta jam 18.00. Terus Nias pergi duluan ke stasiun. Tinggal kita bertiga yang dengan terpaksa tidak menghabiskan makan karena masih kenyang plus porsinya luar biasa besar. Jadwal kereta kita jam 10 malam. Masih lama, sekitar 4 jam lagi. Bagi saya menunggu lama di stasiun itu sudah biasa. Tapi kali ini kita tidak, Kakak mengajak jalan-jalan ke Kota Tua. Dari tempat makan kita naik bajaj. Wah akhirnya merasakan juga naik bajaj. Sempit gitu ternyata muat lho buat bertiga. Supir bajaj ngebut gila-gilaan dan belok sembarangan. Kayaknya jalan milik mereka gitu, syerem… dan sampailah kita di stasiun entah apa. Beli voucher di bawah terus naik ke atas nunggu kereta. Suasana stasiun sungguh luar biasa. Luas tapi sepi. Apa mungkin karena sudah malam dan hari libur ya? Jadi serem gitu pokoknya.


Sampailah kita di stasiun Jakarta Kota. Oh stasiun ini tuh stasiun Jakarta Kota to? Tau sih bangunannnya, karena di Museum Angkut ada replikanya. Stasiun ini besar , atapnya tinggi menjulang. Gagah deh stasiunnya. Dan ramai bangetterang juga. Beda dengan stasiun yang agak serem tadi. Dari sini dibawa muter-muter sampai turun ke bawah yang penuh dengan los-los orang jualan. Dan akhirnya keluar dan disambut di tengah keramaian Kota Tua. Ini dia yang namanya Kota Tua. Dulu sih pengen kesini. Sekarang setelah sampai, hmmmm… terlalu ramai ya? Seperti malam minggu di Asia Afrika Bandung. Rame… seperti biasa kalau rame itu bikin cepet bosan dan pengen pergi aja dari sini. Malah lebih menarik naik-turun gonta-ganti KRL nya ya?  Melihat-lihat stasiun, kereta, dan penumpang-penumpangnya.


Setelah dari Kota Tua naik KRL lagi ke stasiun entah mana. Kemudian naik jembatan layang yang rasanya sangat tinggi dan panjang. Kakinya rasanya kayak agar-agar. Capek dari pagi jalan terus. Mana panas, badannya gerah. Ujung jembatan layang berada di dekat pintu Masjid Istiqlal yang tadi pagi. Haaaa kesini lagi kita. Kakak ngajakin beli es krim di seberang jalan yang tadi pagi kita lewatin. Tempatnya klasik, macam es krim Oen yang ada di Malang itu. Panas-panas lumayan juga makan es. Namanya Ragusa Es Italia. Kata di google sih ini terkenal. Rasanya eank, ringan nggak terlalu eneg. Selesai makan es krim kakak nawarin kalau mau maen ke Monas lagi. Ada pertunjukan air mancur warna gitu katanya. Hmmmm… no thanks deh. Sudah cukup Monas akhirnya naik bajaj lagi dan langsung ke stasiun. Stasiun kali ini sungguh sangat ramai dan sudah banyak berubah dari terakhir kali kesini. Setelah sholat dan say goodbye ke kakak, masuklah ke dalam. Naik kereta dan langsung tidur dengan nyenyaknya tanpa menyapa dan mengobrol dengan penumpang di depan seperti biasanya. Efek capek sekali jalan kemana-mana seharian. Bangun-bangun udah sampai Jogja aja.

es Ragusa
*postingan kali ini kenapa sangat panjang dan over detail ya? *emottt….

Kebun Raya Baturaden, Mana Kebunnya?


Saya pecinta kebun raya dan jatuh cinta dengan Kebun Raya Bogor. Kemudian berlanjut ke Kebun Raya Purwodadi yang berada di Pasuruan Jawa Timur. Pada liburan abal-abal kali ini kita (saya & travelmate), pergi ke Purwokerto. Orang-orang kalau ke Purwokerto pasti ke Taman Wisata Baturaden. Kalau tujuan saya sih sudah pasti adalah…. Kebun Raya Baturaden. Dan beberapa tempat lain yang antimainstream tentu saja.


Berangkat dari Jogja sudah agak siang sekitar jam 9 nan. Lewat jalur selatan dan terkagum-kagum dengan jalan Daendels yang sekarang mulusssssss…. Masih teringat parahnya jalan Daendels dulu sampai-sampai kendaraan yang harusnya berada di sisi kiri, semua jadi di sisi kanan. Meskipun jalannya mulus, ternyata kita malah nyasar. Di akhir jalan yang belok kiri adalah ke arah Karang Bolong, kita belok kanan yang kita kira menuju jalan Kebumen-Gombong. Ternyata adalah jalan entah dimana yang hasilnya kita nyasar dan lewat jalan kecil yang rusak. Kirain udah enggak bakal mengalami lagi nyasar di jalan jelek. Ternyata masih… hmmm


Sepanjang jalan sambil nostalgia dulu sama Geng Lesehan lewat sini mau nginep ke rumah Tami. Ya ampun udah 7 tahun yang lalu aja. Masih inget mau ke rumah Tami belok ke kanan arah Purbalingga, kita sekarang belok kiri jalur alternatif ke Baturaden. Sampai di sini sudah siang dan agak khawatir kalau Kebun Raya Baturaden udah tutup. Ternyata masih buka, Alhamdulillah, tetapi……


Setelah bayar tiket masuk, perjalanan kita ke Kebun Raya nya ternyata masih jauh. Melewati hutan yang bagussssss… meskipun mulai gelap karena mendung. Sampai di parkiran, sudah sepi… Soalnya udah sore sih ya. Dan baru aja sampai di depan anak tangga di bawah gerbang, gerimis mulai turun… Ya Allah, apes bener deh. Apa-apaan ini belum juga 5 menit terpaksa harus balik. Tiketku…. 

Sampai di tengah hutan mau balik menuju pos retribusi hujan turun dengan deras… Waaa basah semua… Buru-buru kabur ke bawah, ke kota. Sampai kota terang benderang tanpa hujan. Yah sudah biasa… Setelah dapat tempat menginap yaitu di hotel UMP Purwokerto, kita mau jalan-jalan di kota dulu sekalian malam mingguan. Kata Nias ada mall disini. Mall nya ternyata cuma di depan alun-alun Purwokerto. Rita Pasaraya judulnya. Baru masuk 5 menit sudah bosan, keluar lagi…


Lanjut cari makan dulu. Sampai di tempat makan yang lucu, hujan turun dengan derasnya. Terpaksa nongkrong lama menunggu hujan reda. Jam 5 sore baru reda hujannya. Kembali ke penginapan dan enggak kemana-mana lagi. Kegiatan paling menyenangkan di hotel ketika menginap di luar kota adalah menonton siaran televisi lokal. Acara siaran televisi lokal itu lucu dan seru karena memakai bahasa daerah. Kali ini kita nonton orang-orang ngomong ngapak di televisi. Ora ngapak ora kepenak. Ini kok maen ala backpacker abal-abal kita semakin nggak jelas gini yah haha..


Pagi hari setelah beres semua kita kembali ke Baturaden dan melewati Unsoed. Owww disini toh Unsoed itu. Balik lagi ke Kebun Raya Baturaden dan beli tiket lagi, hmmmm… Berhenti bentar di dekat pos retribusi, karena di kanan-kiri jalan ada bunga-bunga pink cantik entah bunga apa. Foto-foto dulu dong kita. Di pinggir jalan banyak tenda-tenda berdiri. Mungkin sedang ada yang kemah.
Menuju ke Kebun Raya Baturaden lewat hutan yang bagus kemarin. Sampai di parkiran masih sepi…


Di bawah gerbang sudah ada sekelompok pemusik seperti yang ada di Malioboro. Di pinggir jalan, pada bagian bunga tidak ada bunga samasekali, bahkan banyak tanaman bunga yang rusak. Ada tulisan sedang diperbaiki. Di bagian ini semua tanaman bunga tampak menyedihkan. Tapi ya nggak papa sih, di Kebun Raya memang nggak ada bagian bunga sih. Lah disini malah ada ya walaupun menyedihkan.


Balik lagi ke deretan anak tangga yang menjulang sampai ke atas. Penasaran, ada apakah di ujung anak tangga? Sampai di atas… jeng jeng nggak ada apa-apa. Ngok! Apaan nih? Hanya ada semacam penampungan air di puncak tangga. Selain itu tidak ada apa-apa. Hanya pepohonan sejauh mata memandang. Haaaa hutan ini mah, mana kebunnya? Masa Kebun Raya Baturaden cuma tangga ini doang sih.


Karena penasaran kita mendaki ke atas. Malah hiking ini. Sampai di puncak banyak pengunjung. Wah lewat mana mereka? Oh ternyata ada jalan menuju ke atas sini. Dan ada bangunan merah bata semacam tempat menginap gitu. Oke, mungkin pusat Kebun Raya Baturaden diatas sini bukan di tangga bawah tadi. Jadi optimis lagi. Jalan lagi mengikuti jalan aspal. Pada diliatin orang-orang yang naik motor dan naik angkot karena cuma kita doang yang jalan kaki. Motor kan kita tinggal di parkiran di bawah sana….


Di sekitaran bangunan merah bata tadi ada kantor Balai Konservasi yang terlihat sepi. Di depannya ada Kebun Obat. Kita kesini dulu aja. Kalau di Kebun Raya Purwodadi kebun obat pagarnya digembok dan nggak bisa dimasuki, disini nggak ada pintunya. Lagi-lagi ini adalah hutan, mana kebunnya? Tanpa ada papan keterangan, tanaman obatnya terlihat seperti semak belukar. Tanamannya banyak yang asing dan baru pertama kali lihat. Ada yang berbunga ungu indah dan ada yang seperti bunga matahari kecil. Padahal bagus begini ya, sayang kurang perawatan. Kebun Raya Baturaden itu kapan didirikan sih? Kok semuanya terlihat tua gini dan tidak terawat.



Di dekat Balai Konservasi ada bangunan yang terletak di atas jalan. Tertulis rumah kaca/koleksi anggrek. Pintu depan rumah kaca tertutup dan digembok, hmmmm… Di sebelah rumah kaca ada semacam kamar yang bisa disewa sepertinya. Terlihat nyaman meskipun kecil. Di depan rumah kaca terdapat tempat bermain anak-anak. Ayunan, rumah pohon, jembatan menuju rumah pohon, semua terlihat bobrok dan tidak terawat. Sayang sekali ya.



Akhirnya kita kembali ke bawah dan membawa kendaraan ke atas lagi. Dari Balai Konservasi lurus terus dan ketemu bangunan entah apa di pinggir jalan. Bangunan putih tersebut besar dan terlihat sangat megah di tengah-tengah hutan. Terlihat sepi dan kosong melompong. Sepertinya cocok untuk tempat shooting film horror atau thriller yang jauh dari manapun.


Melanjutkan perjalanan menuju Taman Liana dan koleksi pohon bambu, konsep kebun raya semakin tidak jelas. Taman Liana hanyalah tulisan di tembok di pinggir jalan. Di sekitar tulisan terdapat beberapa tempat duduk. Mungkin yang dimaksud adalah taman yang diberi nama Liana. Kirain Liana itu sejenis tanaman atau bunga tertentu gitu. Setelah Taman Liana, konsep kebun raya semakin kabur. Yang ada adalah jalan yang diapit pepohonan di kanan dan kiri jalan. Ini sih hutan lho, mana kebunnya?


Padang Sabana Bukit Sumurup Gunung Pangonan


Basecamp Bukit Sumurup berada di antara Candi Arjuna dan Kawah Sikidang. Mudah ditemukan karena berada di pinggir jalan. Tiket masuk hanya sebesar Rp 10.000,- saja per orang (kalau tidak salah ingat). Tempat ini belum lama diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah Bapak Ganjar Pranowo. Sehingga belum terlalu ramai oleh pengunjung.


Kata bapak penjaga pos untuk menuju padang savanna diperlukan waktu sekitar 20 menit. Oya?... Okay, perjalanan dimulai. Jalannya mendaki sedikit demi sedikit lama-lama mendaki banget. Belum-belum sudah disuguhi tanaman bagus entah apa dipinggir jalan. Baru pertama kali lihat. Rasanya pengen tak boyong ke rumah. Terus ada buah liar entah apa mirip murbei gitu. Beri liar kita sebut saja begitu. Pengen nyoba makan tapi nggak berani. Takut beracun. Lagi liburan sakit perut kan nggak lucu. Pohon carica tiada habisnya. Di sebelahnya ada pohon tomat Belanda yang tidak terlalu besar tetapi berbuah banyak…. Ini pengen tak bawa pulang juga.


Baru jalan bentar jalannya nanjak banget mana licin. Licin tanah kering sih bukan licin air. Dari atas beberapa cowok turun dengan kostum serius naik gunung. Minggir dulu ngasih jalan mereka. Kita berhenti di semacam taman. Ada tempat untuk duduk-duduk dan terdapat banyak tanaman hias juga. Semacam daun pohon genjer ayam yang merah itu. Ada juga bunga pink besar cantik banget. Sepertinya sih bunga dahlia. Ahhh… bahas tanaman mulu sih ini


Balik ke jalan lagi. Makin menanjak aja ini jalannya. Duhhh…langsung ngos-ngosan. Dikit-dikit berhenti pake alasan ambil gambar, padahal biar ada kesempatan ambil nafas. Jalannya bagus. Kanan-kiri jalan ada pagar tanaman merah berjajar rapi. Pinter deh pengelolanya, jalannya bagus gini. Tiap beberapa meter ada tempat duduk sederhana dari batang pohon buat istirahat. Ada pohon tumbang pula di tengah jalan. Langsung nemplok aja deh kayak cicak di pohonnya. Capek hhhhhh….


Dari atas sini kelihatan Kawah Sikidang dengan orang-orang yang kelihatan kecil kayak semut. Owww ini di atas Sikidang to. Di ujung jalan sebelum belok kanan ada papan kecil kearah kiri petunjuk entah kemana. Lanjut jalan belok kanan agak menanjak kita bertemu dengan jalan cor. Lahhhhh… kok ada jalan cor gini di atas jalan kita tadi? Ternyata ini jalan “resmi” menuju Bukit Sumurup Gunung Pangonan. Dan jalan kita tadi adalah jalan cepat alias menanjak pake banget. Ah persis kayak di Pulau Sempu. Dicariin jalan cepet yang ekstrim.


Jalan cor ini datar aja. Bisa jalan santai sambil menikmati pemandangan. Walapun pemandangannya pohon doang haha.. Jalan-jalan di gunung itu  memang harusnya santai seperti ini. Nggak pake ngos-ngosan. Emang ada jalan-jalan di gunung? Mendadak ada jalan cor kecil di sebelah kanan jalan utama. Menuju kemana lagi ya ini? Jalannya tertutup pohon pinus tumbang.


Sampailah kita di pos terakhir sepertinya. Ada semacam tempat berlindung yang dibuat ala kadarnya. Dari sini jalannya menurun. Dan ada serombongan orang yang ngos-ngosan naik dari bawah. Sepertinya mereka habis camping semalam menilik tas carier mereka yang besar. Setelah menyapa sebentar lanjut jalan ke bawah. Wah kalau jalannya ke bawah ini berarti udah mau sampai, uhuyyy.. Kita jalan diapit pohon-pohon bambu hias. Bagus deh berasa bukan di gunung gitu. Baru kali ini ke gunung ada pohon bambu. Berasa di Jepang haha… walaupun agak deg-deg an juga bayangin gimana kalau ada ular mendadak muncul hiiiii… Tidak lama terlihat padang rumput di bawah sana. Ah itu dia padang savanna yang kita cari.


Sampai di bawah terlihat hamparan luas padang rumput hijau yang dikelilingi gunung membentuk lingkaran. Ya Allah sampai juga disini. Rasanya seperti mimpi berada di padang rumput di atas gunung terpencil. Meskipun untuk menuju kesini butuh perjuangan. Di usia segini dan belum ada sebulan habis mengalami tindakan medis, mungkin aku memang gila…


Masih ada 3 orang pengunjung disini. 2 cewek dan 1 cowok. Sepertinya mereka nge-camp disini dari semalam. Sekarang mereka duduk-duduk santai di bawah pohon yang hanya ada di pingir mengelilingi kawah. Posisi mereka kelihatan nyaman sekali. Berteduh di bawah pohon, ngobrol-ngobrol. Langsung bayangin piknik dibawah pohon itu juga. Tiduran di atas alas, baca buku, ngemil, terus tidur siang. Ahhh daripada berkhayal langsung saja kita ke padang rumput yang sangat luas itu.



Tempat ini adalah kawah. Kawah yang hijau seperti Kawah Wurung, meskipun tidak seluas Kawah Wurung. Kita masih bisa melihat pohon-pohon di seberang paling jauh. Masih sangat luas sekali untuk kita berguling-guling dari satu sisi ke sisi seberang. Di kejauhan ada bayangin hitam. Kita tebak-tebakan apakah itu genangan air atau bayangan awan. Biar tidak penasaran langsung aja kita menuju kesana.


Ternyata ada genangan air yang cukup luas. Mungkin karena sedang musim hujan. Dari kejauhan seperti ada dinding kuning dari pohon entah apa yang luas. Setelah didekati ternyata adalah pohon bambu, sama seperti pohon bambu yang tadi. Kok bisa kuning indah gitu ya. Pohon bambu yang tadi hijau aja tuh daunnya. Ternyata dari jauh jadi kuning. Bagus banget.


Tempat ini seperti benteng rahasia di tengah gunung gitu. Tidak terlihat dari bawah. Hanya terlihat dari tempat yang lebih tinggi. Siapa dulu yang pertama menemukan ya? Bagaikan menemukan harta karun terpendam. Tempat indah yang tersembunyi kayak di film-film gitu. Hanya ada pohon hijau, rumput hijau luas, dan angin kencang yang sejuk.


Tempat favoritku memang yang seperti ini. Hijau, luas, sepi. Sejauh ini tempat favoritku adalah savana Bekol di Taman Nasional Baluran, Sadengan di Taman Nasional Alas Purwo, dan Kawah Wurung. Sekarang ditambah lagi dengan savana Bukit Sumurup Gunung Panggonan ini. Kata temanku, kenapa kok suka? Memang ada apa disana? Aku jawab, tidak ada apa-apa. Hanya ada kita dan alam saja. Sungguh damai


Ya Allah aku suka banget tempat ini. Hijau…. Luas…. Sepi… Sampai disini 3 orang dibawah pohon nun jauh disana tadi langsung tidak kelihatan. Aku pun dengan bebas bisa melepas jilbab untuk memperbaiki rambut acak-acakan yang keluar dari jilbab karena terkena angin. Baru sekali ini bisa melepas jilbab di luar tanpa ada orang lain yang bisa melihat. Sejuk banget rasanya terkena angin. Muka langsung terasa segar. Ya Allah damainya…. Tempat ini seperti milik ku pribadi saja.


Dimana lagi ada tempat indah yang sepi seperti ini. Damai banget rasanya. Tempat ini bagaikan obat untuk luka hati yang masih terasa segar. Bisakah kita tinggal disini saja? Jauh dari ingatan yang bikin sedih.



GARDU PANDANG DIENG


Pagi yang dingin di Dieng. Dinginnya ini masih bisa ditoleransi. Tidak seperti semalam yang dinginnya begitu menggigit tulang. Flashback semalam. Di tengah dingin yang menyiksa masih harus mencari penginapan yang sebagian besar sudah penuh. Mana disini tidak ada yang namanya hotel. Yang ada penginapan dengan model villa-villa berbentuk rumah beneran.


Sebenarnya sudah ada rencana untuk menginap di hotel apa gitu di danau Cebong dekat Sikunir. Ternyata tempatnya jauh bener dari Dieng Kota. Masuk ke desa Sembungan dengan tulisan di gerbang “Desa Tertinggi Di Pulau Jawa”. Entah benar atau tidak tapi untuk menuju kesini harus melewati jalan super sepi dan penuh kabut. Setelah membeku kedinginan ternyata hotel di sebelah danau Cebong yang dimaksud tutup karena renovasi. What the…????


Dengan badan yang menggigil kedinginan terpaksa harus balik lagi ke Dieng Kota dan berpindah-pindah dari satu penginapan ke penginapan lain mencari yang masih kosong. Akhirnya dapat tempat menginap juga setelah ditolak 4 penginapan. Setelah beres urusan pembayaran, keluar lagi buat cara makan. Orang-orang yang jelas sekali adalah pengunjung hilir mudik lewat di depan tempat makan. Banyak amat ya yang menginap, sampai sebagian besar penginapan penuh. Paling banyak adalah remaja anak-anak muda yang bersliweran tiada henti. Ternyata dingin yang menggigit tidak mengurangi ketertarikan orang-orang untuk ke Dieng. Padahal teh panas sekali yang kali ini terasa nyaman di tangan yang dingin membeku dalam waktu sebentar sudah menjadi es teh. Pantesan tidak ada yang jual es disini haaaaa…..


Sudah tau dinginnya kebangetan, masih saja kita mandi jam 8 malam. Menyiksa diri sendiri. Tapi kalau tidak mandi kok rasanya nggak nyaman banget. Meskipun ada air panas tapi tidak membantu sama sekali. Ketika tidak tersentuh air panas meskipun masih di kamar mandi, kulit langsung merinding dan menggigil. Ya Allah dinginnya… Habis mandi langsung sembunyi di balik selimut. Dan… tetep aja kedinginan. Rasanya kok lebih dingin disini daripada di Bromo ya, hmmmm… Tapi mungkin ini karena sudah lupa seberapa dinginnya Bromo hihi.. Tau gini tadi nginep di Wonosobo kota aja ya. Paginya baru ke Dieng.


Pagi di Dieng. Tidak lagi menggigil seperti seperti semalam. Mungkin badan juga sudah mulai beradaptasi. Meskipun masih terasa dingin terutama ketika ada angin yang berhembus. Dan kita langsung ke Gardu Pandang Batu Ratapan Angin yang letaknya di atas Dieng Teater. Dulu kesini tahun 2010 sih belum ada gardu pandang ini. Untuk menuju kesana harus jalan kaki naik sedikit setelah kendaraan kita parkir di Dieng Teater. Mendaki lagi? Oh no… Untung aja mendakinya cuma sebentar dan tempatnya juga bagus.


Meskipun baru jam 6 pagi gardu pandang sudah ramai dengan pengunjung. Walah mereka pada dateng jam berapa ya? Dari Wonosobo kota aja butuh sekitar waktu 1 jam untuk sampai di Dieng. Mungkin mereka termasuk pengunjung yang membuat penginapan penuh semalam. Gardu pandang penuh orang, kita pindah saja di jembatan merah putih. Wah tempatnya sepi tanpa ada satupun pengunjung. Padahal kalau siang antrinya mengular. Setelah membayar 15ribu (kalau nggak salah) maka kita boleh naik ke jembatan dan berfoto ria. Terlihat gampang dan aman dengan tali pengaman yang terpasang di tubuh kita. Ternyata agak deg-degan juga. Karena papan pijakan yang terlihat paten ternyata bisa bergerak di atas tali besi yang diletakkan sebagai penyangga papan. Kalau kaki jeblos hiiii… Niatnya foto-foto malah jadi kayak outbond gini ya hmmm…


Habis foto-foto pindah ke spot tulisan gardu pandang dan batu ratapan angin yang rame dengan pengunjung. Apalagi di batu ratapan angin. Harus antri… Kalau di spot gardu pandang pengunjung tidak terlalu ramai. Wah kok dikit orangnya, ada apaan ya? Eh ternyata mau kesana bayar. Owww… pantesan orangnya dikit haha… bayarnya 5ribu perorang kalau nggak salah. Padahal telaga warna malah enggak kelihatan dari sini, ketutup tulisan. Harusnya yang disuruh bayar itu yang batu ratapan angin, pemandangan ke telaga warna dari sini bagus banget. Pasti semua orang mau antri bayar buat dapet pemandangan indah telaga warna dari atas.


Telaga Warna dari atas sini terlihat sangat tenang. Hijaunya air dan pepohonan bikin damai. Ditambah terasering bukit-bukit di kejauhan. Subhanallah, indah sekali alam ini. Betah sekali maen di Dieng ini. Tapi kalau penuh orang dan foto-foto jadi susah itu bikin cepat bosan juga. Mungkin karena aku suka tempat yang tenang. Plus lapar dan masih ada tempat yang masih mau didatangi. Habis ini kita mau ke Bukit Sumurup yang jadi tujuan utama ke Dieng kali ini. Perjalanan masih berlanjut…..

Blogger Template by Clairvo