Melajang di Hari Buruh

Bagus kan, berasa dimana gitu
Latepost sekali ini. Tapi nggak papa ya, suka-suka dong. Kan ini blog aku

Me
mbak Titik

mbak Dewi

Dita
Ketika itu, semua sedang guyup-guyupnya. Guyup itu apa sih? Cari aja artinya di kamus Bahasa Jawa. Ada ide buat makan-makan di pantai Depok. Makan seafood ditraktir yang lagi ulangtahun. Asyik... 


Dari sekian yang berencana ikut, akhirnya hanya The Lajang aku, Dita, mbak Titik, mbak Dewi (dulu masih lajang). Ditambah the family bu Amik, suaminya, Rana anaknya yang unyu-unyu, dan bu Ahwati plus suaminya sebagai bendahara alias yang mentraktir.


Pose nggak jelas


Habis hidung disuguhi bau-bau amis segala jenis ikan dan produk laut lainnya di pasar ikan, beranjaklah kita keperaduan eh ke tempat makan yang mengolah makanan kita. Tempat makannya ini agak mblusuk ke dalam. Enggak di pinggir pantai yang banyak deretan tempat makan tempat makan yang itu. Tempat makannya di lantai 2, lantai 1 dapur buat masak. Karena tidak dipinggir pantai, jadi pemandangannya ya cuma pohon-pohon cemara udang gitu. Nggak papa, yang penting foto-foto. Hasilnya lumayan kan, kayak dimana gitu hasil fotonya.
meteor garden girls :)

Nunggu makanannya jadi lama banget. The Lajangs tidak sabar dan akhirnya malah ngeluyur ke pantai ninggalan the family. Balik ke tempat makan belum jadi juga makanannya. Hadeh...Tapi penantian terbayar dengan makanan yang berpiring-piring banyaknya dan enak... Saking banyaknya cha kangkungnya jadi nggak habis gitu

Kekenyangan dan leyeh-leyeh pembicaraan mengarah kedestinasi selanjutnya. Demi menyenangkan Dita yang katanya nggak pernah maen
dan melalui kebingungan menentukan tempat, akhirnya dipilihkan maen ke Candi Sambisari. Setelah sholat dhuhur dan adegan nambal ban bocor, berangkatlah kita ke Sleman. Dipikir-pikir agak nggak nyambung juga habis dari Depok ke Sleman. Kurang kerjaan amat ya

Candi Sambisari sekarang dibandingkan 4 tahun lalu jelas tambah rame. Tapi tetep terasa menyenangkan karena walaupun kompleks candi Sambisari kecil, dengan adanya taman, rumput, dan tempat duduk di sekililing candi bikin nyaman buat ngobrol bersama teman-teman.

Moment-moment kayak gini susah banget didapet. Meskipun bisa, paling mentok kayak gini ini. Cuma 4 orang yang bisa. Woyyy katanya pada pengen maen, ayo maen kemana nih kita...



Laguna Lembupurwo

Bagus ya

Gara-gara Nias upload foto di Lembupurwo, jadi penasaran juga pengen kesana. Apalagi liat instagramnya mas Iqbal yang foto-fotonya ciamik abis, jadi tambah pengen kesana. 
Tambah bagus ya ada aku :D
Blue is the warmest colour (judul film)

Pulang dari Karang Bolong dan pantai Suwuk, beloklah ke Lembupurwo. Jalannya sepi bener. Tanda-tanda tempatnya belum terlalu tenar. Sampai disana ya lumayan juga sih jumlah motor yang parkir. Nggak ada tiket masuk, cuma parkir aja. Deket tempat parkir ada gerbang yang terlantar. Entah belum selesai atau terlantar. Semoga saja belum selesai. Kalau belum selesai kan artinya pemerintah Kebumen dalam proses mengembangkan objek wisata ini.




Dari gerbang masih jalan lagi. Mana jalannya agak nanjak, berpasir banget. Eh ternyata di depan masih ada tempat parkir. Yahhh tau gitu tadi parkir disana deh. 


Jadi ingat Bama
Pantai ini lucu deh. Gumuk pasir gitu. Bisa buat sandboarding kayak di Parangkusumo Bantul. Eh ke Parangkusumo aja belum pernah kesana. Cuma lewat doang habis makan-makan dari Depok sama The Lajangs. Kalau denger Parangkusumo jadi inger video klipnya Agnes Monica. Cinta itu kadang-kadang tak ada logika.... jedugjedugjedug
Smile :)

Meresapkan di ingatan
Di bawah ada laguna kayak di pantai Glagah gitu. Tapi lebih bagus disini menurutku. Karena ada pohon-pohon cemara, jadi terlihat lebih sejuk dan hijau. Gumuk pasir kan tinggi ya. Dari atas melandai ke bawah bertemu dengan laguna itu terlihat kontras. Gersang dan subur. Kontras yang indah. 


Ada sebuah jembatan kayu buat menyeberang ke pantai lagi. Di depan jembatan ada kotak untuk pengunjung meletakkan uang. Menyeberang menggunakan jembatan harus membayar Rp 1.000,-. Ada beberapa (banyak) pengunjung yang memilih menyeberang lewat air langsung daripada membayar. Nggak habis pikir dengan model orang-orang beginian. Itu uang kan nantinya buat mengembangkan objek wisata itu juga. Berpartisipasi buat mengembangkan pariwisata Indonesia aja kok pelit. Cuma seribu lho, cuma seribu!



Jembatan ini terbuat dari bambu yang bunyi keriyut-keriyut tiap kali melangkahkan kaki. Dikanan-kiri jembatan dan pinggir laguna dipenuhi pohon-pohon mangrove. Meskipun sudah rimbun tapi terlihat masih muda. Berarti pohon-pohon magrove yang akarnya sampai kemana-mana di Bama itu umurnya berapa ya? Aduh jadi inget pantai Bama deh, i love that place. I do i do i do, I do love Baluran...

Kayak di pantai Gua Cemara

Laguna di sebelah barat

Pantai di seberang laguna teduh dan tidak panas karena banyak pohon cemara udang. Serasa sedang di pantai Gua Cemara deh. Ada warung ala kadarnya juga di bawah kerindangan pohon cemara udang. Nggak menengok pantai yang langsung ke Samudera Hindia berhubung kedatangan tamu bulanan. Mari kita pulang....
Hasil jepretan sendiri
Hasil jepretan mas Iqbal, fotografer beneran

Hasil jepretan fotografer ya kayak gini ini


KARANG BOLONG & PETANAHAN




Belum lupa akan gatalnya pantat gara-gara panas ketika melewati jalan Daendels yang kacau. Tapi masa ya terus menyurutkan niat buat maen ke Kebumen? Tentu tidak dong. Maen ke Kebumen aja baru ke pantai Menganti doang. Ke pantai Karang Bolong kan belum.





Bolong tengah e


Jalan Daendels ya lumayan mending sih daripada tahun kemarin. Kayaknya sih udah dialusin ala kadarnya terus rusak lagi. Paling enggak kendaraan berjalan dengan benar di sisi kiri semua. Enggak kayak tahun kemarin yang ambil jalur kanan semua. Ambil jalur kanan yang agak alusan dikit sambil was-was ada bus di depan. Eh bus nya ternyata juga ambil jalur kanan hahaha... Semua berasa lagi di Amerika kali ye



Pantai Suwuk di seberang


Dari TPR ke pantai sepi gitu. Udah seneng aja bayangin pantainya sepi. Eh sampai pantai kok ya rame aja. Makan mie ayam dulu deh. Habis makan tambah rame. Lah. Padahal menurutku pantainya kecil lho. Tapi unik. Pantainya sebelah kanan. Sebelah kiri tebing tinggi terus bolong tengah e. Owww makanya dikasih nama pantai Karang Bolong. Bolongannya itu tembus ke sungai entah apa namanya yang berhilir di pantai eh laut. Ada perahu kecil yang disewakan buat para pengunjung menyusuri sungai. 

Simple but beauty
Di atas mulut bolongan (?) ada bambu-bambu melintang sama boneka orang lagi manjat bambu. Ceritanya diorama orang memetik sarang walet gitu. Di sini apa ada sarang walet ya? Makin siang ombak di sungai makin ganas sampai masuk ke bolongan (?). Saatnya meninggalkan bolongan (?) ini. 


Nengok ke sebelah kiri ada pantai banyak orang, pantai apa ya? Lah, pantai Suwuk ternyata. Deket bener, selemparan kolor doang. Tapi jauh bener jalannya kan muterin gunung. Ternyata kalau nggak ada gunungnya cuma deket gitu lho. Karena pantainya biasa aja, dan udah siang juga kita akhiri kunjungan di pantai Karang Bolong.

Green & blue = perfect
Karena pulangnya melewati pantai Suwuk, belok juga deh tertarik dengan gerbangnya yang besar dan gagah. Begitu melewati gerbang, wussss... apaan nih rame gila pantainya. Pengunjung di Karang Bolong yang banyak jadi nggak ada apa-apanya dibanding disini. Emang apa bagusnya sih ini pantai? Dannnnnnn...... nggak ada bagus-bagusnya lho, sumpah. Biasa aja gitu lho, kayak Depok aja gitu. Mungkin karena ada arena bermain kali ya jadi rame banget gitu

Gerbangnya bagus ya :)
Ya sudah, pulang deh. Eh sebelum pulang lanjut lagi dong. Masih ada satu pantai lagi. Pantai apakah itu? Check posting selanjutnya






TRAGEDI WARUNG PECEL LELE

Aku suka banget sama yang namanya kucing. Cat lover deh pokoknya. Menurutku kucing itu adalah binatang paling imut lucu cute diantara binatang-binatang lain di dunia ini. Nggak cuma kucing, marga kucing juga aku suka. Harimau, singa, lynx dan saudara-saudara kucing yang lain. Kalau masih kecil kan sama aja kayak kucing. Pas besarnya aja jadi sangar.

Sampai sekarang masih nggak ngerti sama orang yang takut kucing. Apa yang ditakuti sih, imut kayak gitu kok takut ya. Baru kemarin aku ngerasain yang namanya takut sama kucing. Duh rasanya kok nggak rela banget merasakan takut sama kucing.

This is my story, di kota hujan...

Malam hari beli makan di warung pecel lele. Pengen ngerasain lalapan di kota orang Sunda yang katanya pecinta sayuran mentah. Pasti lalapannya banyak dan mantap ya. Di rak makannya aja ada tomat mentah banyak.

Udah nggak heran lagi di setiap tempat makan pinggir jalan di kota hujan banyak kucingnya. Kali ini kucingnya banyak, ada 4-5 gitu. Kucingnya pun besar-besar bukan yang kurus kurang makan.

Biasa dong kalau ada kucing kan aku excited banget dan otomatis manggil puspuspus gitu. Kemarin sih aku enggak manggil lho. Cuma tak liatin gitu kucingnya sambil pasang muka manis. Eh kucingnya nyamperin. Ngeliatin terus, matanya nggak berkedip sama sekali, noleh ke arah lain pun enggak. Ngeliatin terus gitu. Lama-lama serem juga diliatin kucing terus tanpa berkedip. Dari makanan belum datang sampai makanan datang kucingnya tetep diem ngeliatin. Rasanya nggak beres deh ini kucing. Kayak diliatin orang gitu lho, kayak kucingnya bisa mikir gitu. Jangan-jangan itu kucing jadi-jadian ya.. 

Makanan akhirnya datang dengan lalapan yang cuma seuprit. Yaelah, mana sambelnya juga kagak enak lagi. Ditambah dipelototin kucing, duh jadi nggak enak banget makannya. Baru makan bentar, di pinggang sebelah kanan berasa ada yang colek. Hah, apaan tuh? Eh ternyata si kucing ngulurin tangan ke pinggang mau minta makan. Iya kucing yang melotot dari tadi itu. Ya ampun, ini kucing kok nggilani bener sih? Syuh, jauh-jauh sono. Meskipun diusir dan disyuh pake tangan kucingnya cuma geser dikit doang. Masih sambil ngeliatin.

Nerusin lagi makannya, dan tambah nggak nyaman karena si kucing berani beraksi. Lanjut makan bentar, ganti pinggang kiri ada yang colek. Arggg, sampe teriak karena kaget. Ya ampun kucing yang satunya ikut nyolek, dan dengan tatapan yang sama melototnya. Berani sumpah waktu disyuh pake tangan kucingnya mendesis sambil menyeringai. Menyeringai separo, bikin mukanya jadi kelihatan sadis banget. Kalau itu orang, ekspresinya kayak psycho killer berdarah dingin gitu. Hiiiii... sadis, serem banget


Sekarang jadi agak-agak trauma sama kucing di tempat-tempat makan di pinggir jalan. Sadis hiiii

PEMBELI ITU RAJA TAU!

Iya mungkin ini dari sudut pandang aku doang sebagai pembeli sih. Ya iya lah emang aku pernah jadi penjual? Kagak mbakat... 

Ini cerita kemaren sore. Ceritanya aku sama mbak Dewi ke Purnama mau beli kado buat ponakannya mbak Dewi yang unyul-unyul itu. Dan aku mau beli kerudung buat baju baru. Baju baru alhamdulillah tuk dipakai di kondangan...

Well, habis parkir motor kita masuk terus nitipin tas di penitipan barang. Prosedur kayak biasanya. Dialog kurang lebih seperti ini;

Mbak Dewi    : "Mbak, ini ada laptopnya"
Mbak e sono : "Kalau ada laptopnya dibawa aja nggak papa mbak"
Mbak Dewi    : "Ditipin aja mbak, ini berat e"
Mbak e sono : "Wah nggak bisa mbak. Kalau ada laptop dibawa aja"
Mbak Dewi    : "Nggak papa mbak ini dititipin aja" (masih ngoto)
Mbak e sono : "Ini ada peraturannya mbak" (sambil nunjuk kertas disamping kepalanya)
Mbak Dewi    : "Ditaruh bawah aja nggak papa mbak. Berat banget ini"
Mbak e sono : "Nggak bisa mbak, nanti kalau satpamnya tau saya dimarahi"
Mbak Dewi   : " Oh ya udah" (nyerah)

Aku yang diam aja selagi ada dialog di atas jadi emosi sendiri. Iki piye e kok ra mutu tenan mbak e eh peraturannya. Terus dengan sengaja biar kedengaran mbak e, aku bilang ke mbak Dewi

"Mbak, Masak nggak bisa dititipin ini tas. Berat banget lho. Ribet banget ya nggak boleh dititipin. Kalau Mulia bisa lho dititipin. Nggak pake ribet. Tau gitu tadi ke Mulia aja ya tadi"

Jawabnya mbak Dewi :" Iya ya. Yok ke Mulia aja yok"

Dan kita pergi keluar langsung dihadapan mbak nya hahahaha...

FYI, Mulia itu semacam Indonesia-Malaysia nya Bantul di bidang toserba. Saingan ketat gitu loh haha...

Dan menurutku emang nggak mutu peraturannya. Emang di beberapa tempat perbelanjaan peraturannya kayak gitu. Tapi itu kan kalau loker atau tempat penitipannya rawan. Lha yang kemarin itu di loker penitipannya ada yang loker tertutup kok. Kan tinggal masukin tas, dikunci lokernya, kuncinya dibawa. Beres kan. Kecuali lokernya itu terbuka, bisa itu peraturan diterapkan.

Kalau takut ada barang yang hilang ya tambah lucu lagi. Yang boleh masuk ke tempat penitipan barang kan ya pegawai mereka sendiri. Kalau ada yang hilang ya berarti mereka sendiri yang ambil. Makanya jangan sampai ada barang yang hilang, kan tugasnya emang jagain barang. Gimana caranya biar barangnya itu aman.

Kalau ada pembeli yang ngacir gara-gara peraturan itu ya urusan mereka sendiri.

Ora urusan, ora iuran, ora duwe duit

Tempat Para Dewa - Part 2

Angel's trumpet. Luv this flowers
Setelah dari telaga Warna kita ke komplek candi Arjuna. Candinya kecil-kecil. Udah gitu banyak yang rusak juga. Karena tidak se wow candi-candi yang pernah aku datangi, dengan jahatnya enggak mendekatinya hahaha... Panas. Malah berteduh di bawah pohon-pohon cemara dan makan kentang serta jamur goreng. Nyummy...

Jump!

Menyenangkan duduk santai ngemil-ngemil di bawah pohon cemara dan pohon bunga terompet yang cantik. Pemandangan sekeliling candi bagus banget. Dikelilingi gunung-gunung yang berubah seperti tangga karena berubah fungsi menjadi sawah terasering.



Angel's trumpet lagi....
Banyak sekali bukit dan gunung yang mengelilingi Dieng Plateu. Gunung Prau, Sikunir, Pakuwaja, gunung Sumbing, Sindoro. Banyak orang yang membawa tas carrier, pasti baru turun dari camping di gunung Prau atau puncak Sikunir. Duh pengen kesana deh. Tunggu aku ya Prau, semoga aku bisa mengunjungimu

Cabai khas Dieng
Baru sebentar sudah bosan, pergi yuk. Sebenarnya malas ke kawah Sikidang karena pasti bau belerang kan. Tapi terlanjur udah bayar tiket, sayang uangnya dong. Dari candi Arjuna ke kawah Sikidang lumayan jauh juga. Sampe sana rame bener banyak orang

Dari jauh saja, perutkuwh....
Sepanjang jalan menuju kawah aja ada sumber-sumber belerang. Ya Tuhan, kagak tahan baunya. Pengen muntah. Jadinya nggak sampai kawah, cuma dari jauh banget aja liatnya hehe... Dengan ini resmi perut tidak cocok berwisata di kawah huhu..



Oleh-oleh khas Dieng itu adalah carica. Carica itu semacam pepaya khas dari Dieng. Nggak ada di tempat lain. Bentuknya kecil-kecil banget. Baunya enak, wangi. Akhirnya beli yang manisan sama yang buah, mau coba-coba bikin manisan di rumah sendiri. Ada juga kentang khas Dieng. Warnanya merah. Tapi kayak ibu-ibu ah kalau beli kentang hehehe...


Pohon carica
Ternyata masih banyak banget obyek wisata di Dieng. Masih ada kawah Candradimuka, kawah Sileri, apalagi masih banyak sampai lupa. Dari kawah Sikidang udah jam 2 siang aja. What, kok cepet banget yak. Next destination ke telaga Menjer. Ini udah enggak di kawasan Dieng. Turun ke bawah menuju kota Wonosobo.

Duh jauh juga. Entah udah sore atau karena mendung, suasananya agak suram. Lumayan sepi sih tempatnya, kebanyakan pengunjung adalah rombongan keluaraga. Telaga Menjer terlihat syahdu dibalut suasana sore. Berada di pinggir telaga rasanya seperti mimpi, nggak nyata gitu. Sayang udah sore, jadi nggak bisa naik perahu keliling telaga.

Telaga Menjer yang agak mistik
Seru juga maen di Dieng. Tapi belum puas sih rasanya. Pengen kesana lagi, beli kentang goreng dan jamur goreng. Next time, gunung Prau. Insyaallah...






Blogger Template by Clairvo