CANTING MAS PUNCAK DIPOWONO


Bukit-bukit dan puncak-puncak sedang happening dimana-mana. Kayaknya dulu cuma ada Puncak Suroloyo sama Kalibiru yang masih biasa aja. Sekarang ada Puncak Kukusan, Bukit Becici, dan puncak-puncak yang lain.


Sebenarnya malas maen ke bukit-bukit gitu. Tapi bingung nih mau maen kemana sehari doang. Akhirnya maen ke Canting Mas Puncak Dipowono di Kulonprogo. Ternyata tempatnya dekat dengan Kalibiru. Kalau dulu jalan ke Kalibiru itu sudah menanjak tinggi ektstrim, jalan ke Canting Mas Puncak Dipowono tambah lebih ekstrim lagi. Lebih tinggi dari Kalibiru.

puncak Kalibiru
Disini ya cuma melihat pemandangan di bawah gitu. Kalibiru terlihat di bawah sana. Waduk Sermo terlihat lebih jauh lagi. Deretan perbukitan Menoreh yang hijau. Eh Goa Seplawan di sebelah mana ya?


Terus ya... udah gitu aja, hehehehe... *postingan nggak niat


Gagal Move On, Nostalgia ROG


Racana kemarin habis ROG. Jadi inget waktu ROG 5 tahun yang lalu, masih menjadi peserta. Seru abis. Kegiatan lapangan paling seru dan tak terlupakan. ROG adalah singkatan dari Racana Orientering Games. Selain UNY, ada peserta dari UGM, UMY, dan Poltekes Kemenkes Jogja. Halo Purba, halo Panji... Permainan mencari bendera yang berisi poin-poin nilai gitu.


Dari SC kita berangkat menuju tempat ROG yaitu di Gunungkidul. Masuk hutan, dan berhentilah kita di lapangan...(lupa namanya) tempat latihan tembak TNI. Kita diberi waktu untuk membuat kelompok. Setelah terbentuk kelompok, diberikan peta yang berisi petunjuk keberadaan bendera. Dan kita diberikan waktu sebentar untuk berdiskusi menentukan strategi untuk menemukan bendera.


Satu kelompok terdiri dari 3 orang. Aku satu kelompok sama Tegar dan Umu Bibeh. Kelompok kami bernama Hikeholic karena aku sama Tegar pake tas Hikeholic. Nggak kreatif banget ya namanya? emang, hahaha... Dan sepertinya kelompok kami adalah kelompok paling nyleneh. Ketika peluit tanda permainan dimulai, semua kelompok berbondong-bondong lari ke arah barat.


Kelompok kami? Malah berlari ke arah timur sendiri, hahahaha... Sejenak ragu dengan keputusan kami, kok antimainstream sendiri yah? jangan-jangan kita salah. Tapi ya sudahlah, dengan membulatkan tekad kami tetap mantap melangkah ke arah timur, tsahhh... Kami memasuki hutan. Jalannya menjadi agak mendaki. Memantapkan langkah menuju tempat yang kami yakini sebagai titik bendera poin. Singkat cerita, setelah mengubek-ubek semak belukar akhirnya ketemu juga bendera yang berisi poin 3. Ya ampun baru dapat 3 poin coba


Melanjutkan perjalanan, medan berat menanti. Inget banget kita masuk semak belukar yang sangat rapat, dahan-dahan penuh duri menjulur di tengah jalan. Ternyata ini hanya masalah kecil. Kita mentok di pinggir Kali Oyo. Nggak ada jalan, terpaksa susur sungai. Lama-lama jalannya terus naik. Sudah senang bisa keluar dari pinggir sungai, eh mentok lagi di pinggir sungai. Mana pohon-pohonnya tambah rapat dan berduri, ya ampun...


Disini malah ketemu sama kelompok lain entah dari mana (udah lupa). Istirahat sebentar sambil minum dan ngemil. Dan mumet mikir jalan selanjutnya. Lanjut perjalanan, entah dimana (lupa) ketemu 2 kelompok dari UGM kayaknya. Inget banget disitu banyak lipan besar-besar banget. Dan cacing hiiiiii.... Ternyata ini di pinggir sungai (lagi). Pantes... Kok kita selalu mentok di sungai ya? heran... jelek banget orientasinya.


Singkat cerita kita sampai di titik penyeberangan. Kita harus menyeberang Kali Oyo yang luas itu lho, karena titik finish ada di hutan Wangama II yang ada di seberang. Putus asa baru dapat 3 poin akhirnya diputuskan untuk menyeberang dan mencari bendera-bendera di seberang saja. Semua barang-barang dikeluarkan dari tas dan dibungkus plastik besar biar tidak basah kena air. Dibantu sama Gama, kita terlebih dahulu memakai pelampung dan mengikatkan tali tubuh ke tali carmantel yang membentang dari seberang ke seberang.


Waktu kita menyebarang dengan beberapa kelompok, hujan sudah turun. Sepertinya bagian utara hujan sangat deras karena air sungai berwarna cokelat keruh dan aliran air menjadi deras. Meskipun nggak bisa berenang, tapi nggak takut tuh buat menyeberang. Malah rasanya geli karena kakinya melayang-layang naik ke atas permukaan air akibat pelampung. Gerakannya jadi kikuk dan canggung. Dari seberang mas Bagus malah ketawa ngakak menertawakan gaya menyeberang yang nggak jelas. Asyem...


Setelah menyeberang dengan selamat dan bajunya basah semua, kita melanjutkan pencarian bendera. Hujan kembali turun dengan deras. Berbasah-basahan dalam hujan pun tetap tidak juga menghasilkan poin. Bendera entah bersembunyi dimana. Akhirnya dengan berat hati kita menuju titik finish. Karena jika lebih dari jam 5 maka nilai akan dikurangi setiap menitnya.


Sesampainya di titik finish ternyata baru sedikit sekali kelompok yang sudah datang. Beberapa kelompok kemudian datang. Dari panitia baru diketahui ternyata sebagian besar kelompok masih berada di seberang, tidak bisa menyeberang karena sungai banjir besar oleh hujan lebat tadi. Hahahaha... ternyata ada yang lebih sial dari kelompok kita hahaha... 
Kelompok lain sampai di titik finish udah malem gitu. Mereka akhirnya dijemput pick up karena tidak mungkin bisa menyeberang.


Hujan ternyata masih membawa kesialan. Kelar api unggun, pentas seni, dan sebagainya, akhrinya tidur juga. Aku sama Bibeh tidur di samping kursi semen, dan Tegar di barat kami. Entah jam berapa terbangun, punggung terasa basah. Ternyata kami sudah tidur di atas sungai. Waduh banjir... Akhirnya sisa malam tidak tidur sampai pagi hari, sedapppp...


Kegiatan selanjutnya masih ada maen tali di Babarsari. Singkat cerita kelompok kami meraih juara 3 dengan poin 1 karena nilai dipotong 2 gara-gara tiba di titik finish lebih dari jam 5. Kelompok lain nilainya tinggi sebenarnya, nyampai 20an. Tapi karena nggak bisa nyebrang nilai mereka dipotong banyak sekali dan malah jadi minus banyak. Tanpa bersusah payah mencari bendera sampai bertemu biawak dan ular seperti kelompok lain, kita dapat juara 3. Ah kemenangan yang manis hwkwkwkwk...  


Beberapa tahun berikutnya ROG jadi panitia tidak seseru waktu menjadi peserta ya. Posting kayak gini bermula dari kangen sama Tari, Sule, Bibeh, Fitri, Eka, Bangkit, Edi, Malik, Indra. Kangen banget sama kalian..



Ujung-ujungnya Maen ke Kedai Wedangan Watu Lumbung


Hari ini seru sekali! 

Ceritanya menjenguk anak yang kecelakaan. Jauh bener rumahnya di Gunungkidul. Dari Manding sampai Kretek perjuangan melawan angin kencang yang mengancam motor keluar jalur. Sekali oleng gara-gara anginnya ya kenceng banget dari arah timur. Hiiiii... nasib defisit berat badan hahah... Dari Parangtritis naik ke Gunungkidul jalannya naik-turun belak-belok. Karena jalur lintas selatan jadi jalannya besar, lebar, mulus. Menyenangkan pokoknya.

maen salah kostum banget
Urusan menjenguk selesai. Pulangnya anak-anaknya minta berhenti mau foto-foto katanya. Berhenti di masjid di pinggir jalan, mereka berfoto di pinggir jalan raya, dengan background yang tidak jelas. Halah, dasar... Eh ngomong-ngomong ini adalah masjid di pinggir jalan jaman Diksi dulu. Hmmm... jadi nostalgia deh. Malem-malem klekaran kecapekan di pinggir jalan ini habis jalan dari Goa Cerme. Jadi kangen kegiatan lapangan, hiks... 


Perjalanan turun pelan-pelan banget. Selain jalannya menurun serta menyempit, pemandangannya indah. Bisa melihat pantai, Parangtritis dan laut di bawah. Ya ampun indahnya. Meskipun sering lewat sini tapi masih tetap terpana lihat pemandangan di bawah. Subhanallah... 


Anyway, anak-anak akhirnya pergi dengan urusan mereka sendiri-sendiri. Yeee diajakin makan pada nggak mau. Ya udah aku makan berdua aja sama mbak Ratna. Malah bebas merdeka hahaha... 


Dari kemaren kayaknya banyak yang maen ke Kedai Wedangan Watu Lumbung. Berhubung kita lagi di Kretek, jadi kita melipir makan di sana. Lengkap dengan peralatan tempur, alhasil kita salah kostum banget yak maennya hihihi...


Kedai Wedangan Watu Lumbung jaraknya tidak terlalu jauh dari jembatan Kretek. Ke timur dikit, dan belok ke selatan. Naik-naik ke puncak, dan sampailah kita di tempat tujuan. Agak bingung apakah tempat ini sudah buka apa belum, karena masih jam 14.30 WIB. Setauku semua teman-teman yang pernah kesini datangnya sore atau surup sambil lihat sunset. Ini kita masih terang benderang hahaha...


Kata masnya buka 24 jam, ya sudah kita masuk aja. Jadilah kita tamu satu-satunya disini hohoho... Berasa tempat pribadi yak. Ini persis kayak pas maen sama Nias di Candi Barong kemaren. Cuma ada kita berdua doang. Yang artinya adalah maen salah waktu. Di siang bolong dengan terik matahari menyengat. Malah bikin geli sendiri.


Kedai Wedangan Watu Lumbung ini letaknya di atas. Jadi bisa melihat pemandangan di bawah. Bisa melihat garis pantai dan laut lepas. Tempatnya outdoor gitu, jadi semuanya langsung beratapkan langit. Kecuali satu gazebo untuk makan, dan satu gazebo untuk mushola. Tempat duduk-tempat duduk yang lain semuanya aneh-aneh. Ada yang dibentuk seperti ayunan. potongan pohon, potongan bambu ala kadarnya, bahkan ada tempat duduk plus rak buku yang berada di dalam kandang sapi. Kandang sapi konvensial jaman dulu itu lho. Tau kan? Nggak tau? Yah dateng aja deh kesini biar tau 


Menu disini sebagian besar adalah minuman dan camilan. Aku sama mbak Ratna pesan mie, roti bakar, pisang goreng berbalut coklat dan kopi. Kopi disini macam-macam. Ada kopi Flores, kopi Toraja, kopi Aceh, sampe lupa saking banyak macamnya. Aku pesan kopi Flores biar besok bisa maen ke Flores, ke Ende, ke Bajawa, ke Waerebo, ke Danau Kalimutu, amin ya Allah... *semangat 45 


Makan disini susah. Anginnya kenceng bener. Saking kencengnya, gazebonya sampai goyang. Waduh kalau gazebonya terbang apa ambruk gimana ini. Tiap angin kencang datang, badan sampai dibungkukin buat melindungi makanan. Aduh kerupuknya terbang semua... dan berakhir di perut angsa yang mendadak muncul entah darimana. Yang ada kita ketawa-ketawa ngakak menertawakan angin kencang, makanan yang diterbangkan angin, acara menjenguk siswa yang ujung-ujungnya malah maen


*tumben posting maen di tempat makan ya? besok-besok posting tempat makan lagi ah




LESEHAN DI CANDI BARONG & RATU BOKO


Hari Jumat itu kan hari kumpulnya Geng Lesehan. Kali ini cuma sama Nias doang. Tanpa Tami, apalagi Titis. 


Aku sama Nias langsung ketemuan di JEC. Ada Pameran Jajanan Kekinian. Makanan-makanannya sih standar, yang agak aneh mungkin burger dan hotdog hitam yang tentu aja Nias beli. Padahal aneh, bikin geli hiiiii..... Nias kan emang spesialis beli makanan-makanan aneh 


Sudah cukup puas dan cukup bokek, keluar sholat dulu. Habis ini maen kemana ya? Sejenak berbingung ria, akhirnya diputuskan main ke candi Barong. Dimanakah letak candi Barong? Ternyata candi Barong letaknya berdekatan dengan candi Ratu Boko dan candi Banyunibo. Jaman kuliah pernah ke 2 candi ini plus candi Ijo yang letaknya lebih jauh. Kok ya candi Barong luput dari penglihatan ya? 


Ke candi Barong lewat jalan kecil di selatan rel kereta api, ke arah timur. Ternyata ada plang kecil bertuliskan candi Barong. Dan selama ini tidak pernah melihatnya, hadeh... Jalan ke candi Barong lumayan menanjak. Pemandangannya indah, gunung Merapi terlihat besar di sebelah utara.



Sampai di pertigaan kecil dengan plang candi Ratu Boko ke arah kanan, dan candi Barong ke arah kiri. Lho, ke Ratu Boko bisa lewat sini? Lanjut belok kiri, jalan semakin eksotik. Eksotik karena gersang haha...


Sampailah di candi Barong. Sepi benerrrrr, cuma aku sama Nias doang pengunjungnya. Baru saja laporan ke pos jaga, ada 2 mbak-mbak yang datang. Jadi empat deh pengunjungnya. Masuk ke candi Barong ini gratis, nggak ada biaya masuk. Kayak di candi Sambisari ya.


Candi Barong beda banget sama candi-candi yang lain. Candi Barong memiliki panggung yang luas dan tinggi. Ada 2 teras. Di teras paling atas gerbang dengan 2 candi kecil. Unik deh candinya. Candinya kecil tapi terasnya luas banget.


Sepi banget tempat ini. Cuma ada aku, Nias, sama mbak-mbak muda 2. Bukannya foto-foto selfie seperti layaknya orang-orang jaman sekarang, mereka malah mojok di pager. Ternyata ada yang lebih aneh dari Nias hahaha... Kemudian ada segerombolan anak-anak SMP yang heboh sebentar dan kembali sepi. Saking sepinya tempat ini, Nias sampai bisa klekaran berpose ala ikan duyung hahaha...


Dari sini bisa melihat candi Banyunibo yang ada dibawah. Dekat sekali ternyata letaknya, hanya atas bawah. Ngglundung nyampe deh. Tapi Candi Ijo tidak terlihat dari sini. Tinggi banget berarti ya Candi Ijo itu. Iyalah, jalannya aja seru. Sebelum balik kita menyempatkan mampir ke situs apa gitu lupa namanya di deket Candi Barong.
candi Banyunibo dari atas
Berhubung Nias belum pernah ke Candi Ratu Boko, selanjutnya kita mau ke Candi Ratu Boko. Males kembali ke jalan utama karena harus memutar jauh, jadinya kita lewat jalan kecil di pertigaan tadi. Wah asyik nih nemu jalan baru. Jalannya kecil dan berbelok-belok melewati tengah perkampungan Sepertinya ini nanti tembus di gerbang selatan Ratu Boko deket Candi Banyunibo.

maen salah kostum
Eh kok ada tulisan parkir di sebuah rumah. Kata mas-mas disitu udah mentok nggak bisa jalan lagi. Loh, jadi ini bukan di gerbang Candi Ratu Boko toh. Dimanakah ini? Ternyata ini jalan di sebelah gua-gua itu. Jalan belakang ternyata. Dan tidak ada petugas yang menarik biaya masuk. Widih, seneng-seneng khawatir.

candi Ratu Boko
Candi Ratu Boko gersang banget. Nggak ada hijau-hijaunya. Terlihat lebih amburadul dibandingkan dulu. Mana panas banget lagi. Haduh haus banget. Akhirnya aku dan Nias malah leyeh-leyeh minum es degan. Segerrr... Minum-minum santai sambil ngobrol ngalor-ngidul. Saking asyiknya sampai nggak kerasa udah sore dan kita panik cepet-cepet balik. Dan melewatkan sunset di Candi Ratu Boko yang terkenal indah



Telaga Sarangan - One Day Trip To East Java


Sudah dari tahun kapan pengen ke Telaga Sarangan. Tapi tiap kali lihat foto-foto di internet kok kayaknya biasa aja gitu. Seperti kurang greget gimana gitu. Setelah menunda sekian lama, akhirnya maen juga kesana. Sebenarnya pengen ke Telaga Sarangan karena jalan menuju Magetan kan lewat Lawu. Pengen nostalgila aja. Lawu i'm in love...... 


Ternyata udah lama juga nggak ke Lawu. Terakhir kesana pas tahun baru 2011. Udah 4 tahun. Kemarin ke Buper Sekipan cuma sampai Tawangmangu aja. Belum sampai Lawu. Gara-gara lama nggak ke Lawu, kita malah lewat Gondosuli. Lha taunya ke Lawu ya lewat Gondosuli kan? Ternyata ada jalan tembus baru yang jalannya lebih landai. Dan kita malah lewat Gondosuli yang jalannya curam abis. Ya sudahlah, itung-itung nostalgia. Eh ternyata malah bisa lihat pemandangan bagus di bawah.


Memasuki Cemoro Kandang banyak penjual strawberry di kanan-kiri jalan. Strawberrynya besar-besar kayak di Ciwedey. Asyik beli ah. Eh nanti aja baliknya. Lepas dari Cemoro Kandang sudah memasuki kabupaten Magetan. Jadi Cemoro Sewu itu sudah masuk Jawa Timur. Maen sehari pulang pergi ke Jawa Timur, huebattt.... *atau nekat? 


Dulu ya mentok cuma sampai Cemoro Sewu aja. Dari Cemoro Sewu menuju Sarangan jalannya indah. Lebih indah dari Tawangmangu - Lawu. Tebing di sebelah kiri jalan dihiasi oleh bunga-bunga kecil berwarna putih. Bagus, padahal hanya bunga liar aja. Di suatu belokan pemandangannya bagus banget. Pohon di kanan-kiri dengan latar belakang puncak Lawu. Lawu i'm in love.... hahahaa... kumat


Nggak terlalu lama dari Cemoro Sewu, kita udah sampai di Telaga Sarangan. Walah deket ya dari Lawu. Jawa Timur sedekat ini lho dari Jogja hahaha...


Jalan masuk menuju Telaga Sarangan turun curam banget. Ternyata ini bukan jalan utama yang ada gerbang selamat datang nya. Mungkin ini jalan alternatif. Walah kayaknya dari tadi kita salah ambil jalan terus ya. Kalau nggak nanjak banget malah turun curam banget. Hadehhh


Tiket masuk udah di tangan. Mau ke telaga jalannya rame banget. Orang jalan, kuda, mobil, motor jadi satu berdesak-desakan. Mau ke pinggir telaga aja susahnya minta ampun. Kurang bagus nih pengelolaan tempat wisatanya. Harusnya sih dikasih tempat parkir, jadi orang jalan dari tempat parkir ke pinggir telaga gitu. Ini motor diparkir di pinggir telaga gitu aja. Hadeh kacau banget


Sampai di pinggir telaga malah bingung sendiri mau ngapain. Naik boat atau naik kuda, males. Jadinya cuma foto-foto telaganya doang. Yang bagus dari Telaga Sarangan menurutku ya cuma pemandangan telaga dengan background hijaunya aja. Apalagi kelihatan jelas banget puncak Lawu diatasnya. Emang Lawu indah ya. Lawu i'm in love deh...


Muterin Telaga Sarangan ah sebelum balik. Eh di ujung ada gerbang dengan tulisan Selamat Datang di Wana Wisata Ngadiloyo. Ada papan petunjuk kecil air terjun gitu. Loh kok ada wana wisata? Masuk ah, karena wana wisata biasanya lebih menarik dari telaga.


Masuk ke wana wisata kok malah masuk ke daerah persawahan ya? Kemudian masuk ke perkampungan. Perkampungan ini kayak di Sekipan. Di lembah dan diapit bukit tinggi di kanan dan kiri. Kendaraan diparkir di perkampungan ini. Banyak juga motor yang diparkir. Wah pasti rame nih di air terjun.


Dari tempat parkir katanya jalan setengah kilo gitu. Jalan menuju ke air terjun lewat persawahan dengan pemandangan yang bagus banget. Persawahan dengan jalan aspal di pinggir dan sungai kecil yang jernih banget. Pemandangan hijau luas sampai mentok di bukit hijau di kejauhan. Ya ampun ini bagus banget. Bonus dari Telaga Sarangan.


Jalannya agak sepi, bisa puas menikmati pemandangan. Ada warung kecil gitu di belokan yang jualan minuman sama makanan kecil. Disini ketemu ibu-ibu bawa plastik yang berisi sayuran. Ada kentang, labu siam, wortel. Lho ini ibu-ibu abis dari air terjun atau penduduk yang panen sayur sih? ternyata nggak lagi ketemu warung kecil yang jualan sayuran. Jalan lagi banyak warung-warung kecil di kiri jalan.

Dari sini jalannya mulai menanjak. Waduh. Dan klimaknya adalah di tangga yang lumayan tinggi, Waduh lupa kalau menuju air terjun itu emang butuh perjuangan jalan nanjak hahaha... Naik tangga cuma capek dikit sih. Akhirnya jalannya agak landai lagi. Eh air terjunnya kelihatan dari sini. Istirahat di batu besar dulu, capek abis naik tangga. Pemandangannya disini indah juga.


Kirain udah sampai di air terjun. Eh masih harus jalan lagi ternyata. Dari sini jalannya agak nanjak dikit. Entah kenapa rasanya malah lebih ngos-ngosan daripada pas naik tangga tadi. Sampai di warung-warung malah lemes. Ditambah pemandangan air terjun yang nun jauh diatas dan tangga dibawahnya yang harus dinaikin.


Haduh tambah lemes. Ambruk aja deh di warung. Beli cemilan dulu, hahaha... Banyak banget keluarga-keluarga yang pelesir disini. Wah mereka hebat naik tangga tadi. Padahal udah bapak-bapak & ibu-ibu. Makanya travelinglah selagi muda. Pas udah tua tinggal leyeh-leyeh aja liatin foto jalan-jalan semasa muda hahaha....


Capeknya udah ilang. Sebenarnya males naik keatas. Tapi ya udah sampai disni, jauh-jauh ke Jawa Timur. Naiklah keatas. Sampai paling atas. Badalah......... air terjunnya kecil amat hahaha.... Udah ah, liat sekali udah puas. Turun lagi. Malah lebih bagus pemandangan sepanjang jalan menuju air terjun ya?


Masih lebih bagus lagi pemandangan gunung Lawu hohohoh...

   .






Blogger Template by Clairvo